Mengenal Kekayaan Sejarah Di Pandeglang
Selasa, 28 Juli 2015
Selasa, 30 Juni 2015
Inilah bangunan bersejarah yang banyak berdiri di pandeglang
Bangunan bersejarah banyak berdiri di Pandeglang
Berita Terkait
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
7 Tempat paling misterius di dunia
Goa Jepang pariwisata andalan kota Lhokseumawe
- Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten memiliki cukup banyak bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri dan dipertahankan keasliannya.
"Bangunan situs sejarah cukup banyak, di antaranya gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi dan eks Kewedanaan Menes," kata Kepala Seksi Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang Imron Mulyana di Pandeglang, seperti dikutip dari Antara, Jumat (30/5).
Dia menyatakan, bangunan yang memiliki nilai sejarah tersebut terus dipelihara dan kalaupun ada pemugaran tidak menghilangkan bentuk aslinya.
Imron menyatakan, untuk gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi memiliki keunikan tersendiri, di antaranya pada bagian atap menggunakan limasan.
Bangunan yang beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi ini, kata dia, sekarang memerlukan perbaikan pada beberapa bagian yang telah mengalami kerusakan.
"Ada beberapa bagian yang mengalami kerusakan, dan perlu mendapat perbaikan. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah pusat untuk merenovasi bangunan itu," katanya.
Bangunan yang memiliki luas 12 M x 18 M persegi itu, kata dia, bisa menjadi salah satu objek wisata religius. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung dapat menempuh jalur darat dengan jarak di Kota Serang, Ibu Kota Provinsi Banten hanya 42 KM.
Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan.
"Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1817-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia," katanya.
Sedangkan bangunan eks gedung Kewedanaan Menes, kata dia, terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dan saat ini dijadikan sebagai Kantor Kecamatan Menes.
Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848.
Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 M x 22 M.
Arsitektur lokal terlihat dari atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan yang ber arsitektur Jawa.
Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bentuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama.
Bangunan ini didirikan pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak,. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan.
Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 KM atau hanya sekitar 28 KM dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
Berita Terkait
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
7 Tempat paling misterius di dunia
Goa Jepang pariwisata andalan kota Lhokseumawe
- Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten memiliki cukup banyak bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri dan dipertahankan keasliannya.
"Bangunan situs sejarah cukup banyak, di antaranya gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi dan eks Kewedanaan Menes," kata Kepala Seksi Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang Imron Mulyana di Pandeglang, seperti dikutip dari Antara, Jumat (30/5).
Dia menyatakan, bangunan yang memiliki nilai sejarah tersebut terus dipelihara dan kalaupun ada pemugaran tidak menghilangkan bentuk aslinya.
Imron menyatakan, untuk gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi memiliki keunikan tersendiri, di antaranya pada bagian atap menggunakan limasan.
Bangunan yang beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi ini, kata dia, sekarang memerlukan perbaikan pada beberapa bagian yang telah mengalami kerusakan.
"Ada beberapa bagian yang mengalami kerusakan, dan perlu mendapat perbaikan. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah pusat untuk merenovasi bangunan itu," katanya.
Bangunan yang memiliki luas 12 M x 18 M persegi itu, kata dia, bisa menjadi salah satu objek wisata religius. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung dapat menempuh jalur darat dengan jarak di Kota Serang, Ibu Kota Provinsi Banten hanya 42 KM.
Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan.
"Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1817-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia," katanya.
Sedangkan bangunan eks gedung Kewedanaan Menes, kata dia, terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dan saat ini dijadikan sebagai Kantor Kecamatan Menes.
Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848.
Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 M x 22 M.
Arsitektur lokal terlihat dari atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan yang ber arsitektur Jawa.
Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bentuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama.
Bangunan ini didirikan pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak,. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan.
Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 KM atau hanya sekitar 28 KM dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
Senin, 29 Juni 2015
Mengenal 6 Gunung di Pandeglang
Salah satu kegiatan travelling yang cukup
digandrungi anak muda belakangan ini adalah mendaki gunung. Beruntungnya, Indonesia
memiliki banyak daerah pegunungan dengan keindahan yang tiada tara. Nah, inilah
6 gunung yang mungkin bisa dijadikan tujuan trekking kita selanjutnya di
Pandeglang :
11. . . Gunung Karang (1.778
mdpl)
Terdapat
3 objek kunjungan utama, yaitu Sumur Tujuh, Kolam Renang Cikoromoi dan
Pemandian Air Panas Cisolong. Gunung berapi aktif nan mistis ini dikenal sebagai
wisata spiritual untuk berziarah di Petilasan Pangeran TB. Jaya Raksa, Sesepuh
Kerajaan Banten.
22..
Gunung Pulosari (1.346
mdpl)
Berdasarkan
sejarahnya, gunung berapi yang juga aktif ini dianggap kramat. Wisatawan dapat
mengunjungi Curug Putri dan Kawah Ratu.
13. Gunung Aseupan (1.174
mdpl)
Gunung
berbentuk kerucut yang berada di sebelah Gunung Pulosari ini masih sangat asri
dan jarang terjamah oleh para pendaki. Karena kekhasan ekosistemnya, gunung ini
didaulat menjadi Taman Hutan Raya (TAHURA).
24.
Gunung Honje (620 mdpl)
Berada
dalam wilayah Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Pengunjung disuguhi panorama
vegetasi hutan pegunungan rendah dan satwa-satwa liar dilindungi, seperti Badak
Bercula Satu dan Owa Jawa. Selain itu, terdapat Sungai Cigenter, Curug Paniis, Curug
Cikacang dan Sumber Air Panas Cibiuk.
15.
Gunung Tilu (562 mdpl)
Gunung
yang berada di kawasan Gunung Honje ini adalah lokasi wisata ziarah di Makam Ki
Buyut Ukur yang merupakan pahlawan orang Sunda.
Puncaknya tampak nyata
di Ujung Kulon bagian barat dengan lereng curam dan hutan primer yang rimbun. Terdapat
batu-batu karang yang tinggi dan sebuah gua kramat yang bernama Sangyangsirah
Kamis, 18 Juni 2015
kekayaan sejarah pandeglang
Mengenal lebih dekat Kekayaan Tempat Sejarah di PANDEGLANG”

Bagi yang belum mengenal tentang beraneka ragamnya kekayaan tempat bersejarah di Pandeglang berikut ini kami tampilkan beberapa profil tempat bersejarah Bagian III di Pandeglang :
1. Wisata Ziarah di Cikadueun.


click untuk memperbesar
2. Prasasti Muruy

3. Prasasti Munjul

4. Situs Gunung Cupu

Di persimpangan Kaduhejo, tepatnya di Mengger (daerah yang agak miring, antara bukit dan lembah) terdapat dua jurusan yang berlainan arah menuju ke Kecamatan Cimanuk (Ci = air = sungai, manuk = burung) salah satu peninggalan masa silam yang dapat ditemukan di sini terdapat di salah satu bukit yang oleh masyarakat setempat disebut Gunung Cupu.
Halwany Michrob dalam Lebak Sibedug dan Arca Domas (1993), menduga Gunung Cupu sebagai punden berundak seperti halnya punden berundak di Lebak Sibedug yang terkenal di Kabupaten Lebak. Ketika dilaksanakan survey pada tahun 2007, “makam” yang terdapat pada bagian atas sudah diberi pagar oleh pengunjung.
5. Situs Batu Go’ong

Formasi Batu Goong yang mengelilingi menhir ini lazim disebut formasi “temu gelang”.
5. Situs Batu Lingga

click untuk memperbesar
6. Situs Batu Bergores Cidaresi

7. Situs Sanghyang Dengdek

Arca semacam ini dikategorikan ke dalam tipe arca megalitik yang belum menggambarkan sebuah karya seni yang tinggi. Arca megalitik ini diduga berkaitan dengan pemujaan nenek moyang, dengan anggapan bahwa arca tersebut merupakan personifikasi dari orang yang telah meninggal dan sekaligus sebagai sarana pemujaan arwah.
8. Situs Sanghyang Heuleut

9. Situs Batu Sorban

10. Situs Batu Ranjang

Dolmen Batu Ranjang ini amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang telah dikerjakan secara halus dan permukaannya rata. Dolmen ini berukuran ± 110 cm x 250 cm, disangga oleh empat buah batu setinggi 35 cm dengan pahatan pelipit melingkar. Di bawahnya terdapat pondasi yang terbuat dari batu kali untuk menahan agar batu penyangga tidak terbenam ke dalam tanah.
11. Situs Batu Trongtrong

Batu Trong Tong atau masyarakat menyebutnya sebagai batu kentongan, sekilas nampak seperti bentuk sebuah “kentongan”. Fungsi sebenarnya dari batu ini tidak diketahui secara pasti karena sudah tidak berada lagi dalam kontek budaya masyarakat pendukungnya. Namun ada banyak kemungkinan mengenai fungsi batu ini, bisa sebagai peti kubur batu atau sebagai lambang kesuburan karena bentuknya menyerupai alat kemaluan wanita. Batu ini terbuat dari batuan beku andesit dengan tinggi ± 42 cm dan lebar ± 2 cm.
Peti Kubur batu merupakan bagian dari tradisi megalitik pada masa bercocok tanam. Pada masa ini dikenal adanya penguburan sekunder, yakni ketika jasad si mati telah tinggal tulang belulang, kemudian dipindahkan ke dalam wadah berupa peti kubur batu untuk disimpan. Sedangkan bila batu ini diasumsikan sebagai lambang kesuburan karena bentuknya seperti kemaluan wanita yang disamarkan.
Batu Trong Tong ini terdapat di Kampung Batu Ranjang, Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, kurang lebih 57 km dari Ibu Kota Provinsi Banten atau sekitar 22 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
12. Makam Syekh Mansyur

Makam Syekh Mansyur terletak di Kampung Cikadueun, Desa Cikadueun, Kecamatan Cimanuk. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Syekh Mansyur berkaitan dengan riwayat Sultan Haji atau Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar, Sultan Banten ke tujuh yang merupakan putera Sultan Ageng Tirtayasa. Masa Pemerintahan Sultan Haji yang kooperatif dengan Belanda ini dipenuhi dengan pemberontakan dan kekacauan di segala bidang, bahkan sebagian masyarakat tidak mengakuinya sebagai sultan.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Sultan Haji yang asli kembali ke Banten dan mendapati kenyataan Banten sedang dalam keadaan penuh huru-hara. Untuk menghindari keadaan yang lebih buruk lagi, Sultan Haji pergi ke Cimanuk, tepatnya ke daerah Cikadueun, Pandeglang. Di Cikadueun ia menyebarkan agama Islam hingga wafat disana. Ia dikenal dengan nama Haji Mansyur atau Syekh Mansyur Cikadueun. Namun cerita seperti ini dari sisi sejarah sangat lemah, dan hanya dianggap cerita rakyat atau legenda yang mengandung nilai dan makna filosofis.
Sumber lain mengatakan, Syekh Mansyur Cikadueun adalah ulama besar yang berasal dari Jawa Timur yang hidup semasa dengan Syekh Nawawi al Bantani. Kedua tokoh tersebut terlibat langsung dalam perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Syekh Mansyur dikejar oleh belanda dan akhirnya menetap di Kampung Cikadueun, Syekh Nawawi kembali lagi ke Mekkah.
Kepurbakalaan yang terdapat di komplek makam Syekh Mansyur Cikadueun ini hanyalah batu nisan pada makam Syekh Mansyur yang tipologinya menyerupai batu nisan tipe Aceh. Nisan ini memiliki bentuk dasar pipih, bagian kepala memiliki dua undakan, makin ke atas makin mengecil. Pada bagian atas badan nisan terdapat tonjolan berbentuk tanduk. Hiasan berupa sulur daun dan tanaman terdapat hampir di seluruh badan nisan tanpa ragam hias kaligrafi.

Bagi yang belum mengenal tentang beraneka ragamnya kekayaan tempat bersejarah di Pandeglang berikut ini kami tampilkan beberapa profil tempat bersejarah Bagian III di Pandeglang :
1. Wisata Ziarah di Cikadueun.


click untuk memperbesar
2. Prasasti Muruy

3. Prasasti Munjul

4. Situs Gunung Cupu

Di persimpangan Kaduhejo, tepatnya di Mengger (daerah yang agak miring, antara bukit dan lembah) terdapat dua jurusan yang berlainan arah menuju ke Kecamatan Cimanuk (Ci = air = sungai, manuk = burung) salah satu peninggalan masa silam yang dapat ditemukan di sini terdapat di salah satu bukit yang oleh masyarakat setempat disebut Gunung Cupu.
Halwany Michrob dalam Lebak Sibedug dan Arca Domas (1993), menduga Gunung Cupu sebagai punden berundak seperti halnya punden berundak di Lebak Sibedug yang terkenal di Kabupaten Lebak. Ketika dilaksanakan survey pada tahun 2007, “makam” yang terdapat pada bagian atas sudah diberi pagar oleh pengunjung.
5. Situs Batu Go’ong

Formasi Batu Goong yang mengelilingi menhir ini lazim disebut formasi “temu gelang”.
5. Situs Batu Lingga

click untuk memperbesar
6. Situs Batu Bergores Cidaresi

7. Situs Sanghyang Dengdek

Arca semacam ini dikategorikan ke dalam tipe arca megalitik yang belum menggambarkan sebuah karya seni yang tinggi. Arca megalitik ini diduga berkaitan dengan pemujaan nenek moyang, dengan anggapan bahwa arca tersebut merupakan personifikasi dari orang yang telah meninggal dan sekaligus sebagai sarana pemujaan arwah.
8. Situs Sanghyang Heuleut

9. Situs Batu Sorban

10. Situs Batu Ranjang

Dolmen Batu Ranjang ini amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang telah dikerjakan secara halus dan permukaannya rata. Dolmen ini berukuran ± 110 cm x 250 cm, disangga oleh empat buah batu setinggi 35 cm dengan pahatan pelipit melingkar. Di bawahnya terdapat pondasi yang terbuat dari batu kali untuk menahan agar batu penyangga tidak terbenam ke dalam tanah.
11. Situs Batu Trongtrong

Batu Trong Tong atau masyarakat menyebutnya sebagai batu kentongan, sekilas nampak seperti bentuk sebuah “kentongan”. Fungsi sebenarnya dari batu ini tidak diketahui secara pasti karena sudah tidak berada lagi dalam kontek budaya masyarakat pendukungnya. Namun ada banyak kemungkinan mengenai fungsi batu ini, bisa sebagai peti kubur batu atau sebagai lambang kesuburan karena bentuknya menyerupai alat kemaluan wanita. Batu ini terbuat dari batuan beku andesit dengan tinggi ± 42 cm dan lebar ± 2 cm.
Peti Kubur batu merupakan bagian dari tradisi megalitik pada masa bercocok tanam. Pada masa ini dikenal adanya penguburan sekunder, yakni ketika jasad si mati telah tinggal tulang belulang, kemudian dipindahkan ke dalam wadah berupa peti kubur batu untuk disimpan. Sedangkan bila batu ini diasumsikan sebagai lambang kesuburan karena bentuknya seperti kemaluan wanita yang disamarkan.
Batu Trong Tong ini terdapat di Kampung Batu Ranjang, Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, kurang lebih 57 km dari Ibu Kota Provinsi Banten atau sekitar 22 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
12. Makam Syekh Mansyur

Makam Syekh Mansyur terletak di Kampung Cikadueun, Desa Cikadueun, Kecamatan Cimanuk. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Syekh Mansyur berkaitan dengan riwayat Sultan Haji atau Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar, Sultan Banten ke tujuh yang merupakan putera Sultan Ageng Tirtayasa. Masa Pemerintahan Sultan Haji yang kooperatif dengan Belanda ini dipenuhi dengan pemberontakan dan kekacauan di segala bidang, bahkan sebagian masyarakat tidak mengakuinya sebagai sultan.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Sultan Haji yang asli kembali ke Banten dan mendapati kenyataan Banten sedang dalam keadaan penuh huru-hara. Untuk menghindari keadaan yang lebih buruk lagi, Sultan Haji pergi ke Cimanuk, tepatnya ke daerah Cikadueun, Pandeglang. Di Cikadueun ia menyebarkan agama Islam hingga wafat disana. Ia dikenal dengan nama Haji Mansyur atau Syekh Mansyur Cikadueun. Namun cerita seperti ini dari sisi sejarah sangat lemah, dan hanya dianggap cerita rakyat atau legenda yang mengandung nilai dan makna filosofis.
Sumber lain mengatakan, Syekh Mansyur Cikadueun adalah ulama besar yang berasal dari Jawa Timur yang hidup semasa dengan Syekh Nawawi al Bantani. Kedua tokoh tersebut terlibat langsung dalam perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Syekh Mansyur dikejar oleh belanda dan akhirnya menetap di Kampung Cikadueun, Syekh Nawawi kembali lagi ke Mekkah.
Kepurbakalaan yang terdapat di komplek makam Syekh Mansyur Cikadueun ini hanyalah batu nisan pada makam Syekh Mansyur yang tipologinya menyerupai batu nisan tipe Aceh. Nisan ini memiliki bentuk dasar pipih, bagian kepala memiliki dua undakan, makin ke atas makin mengecil. Pada bagian atas badan nisan terdapat tonjolan berbentuk tanduk. Hiasan berupa sulur daun dan tanaman terdapat hampir di seluruh badan nisan tanpa ragam hias kaligrafi.
Langganan:
Postingan (Atom)